Universitas Pelita Harapan (UPH) salah satu universitas terkemuka indonesia, berlokasi di Karawaci Tangerang, Banten, saat ini diusianya yang sudah memasuki 25 tahun, kini telah berhasil menjadi universitas terbaik ke 23 dari 66 universitas secara nasional di Indonesia, dan posisi ke-451 dari 719 universitas terkemuka dunia berdasar ranking UI GreenMetric 2018, sistem ranking universitas yang diakui secara internasional yang berbasis kriteria-kriteria sustainability lingk
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir, beberapa waktu lalu telah memperkenalkan rektor asing pertama di Indonesia, yakni Profesor Jang Youn Cho, berasal dari Korea Selatan. Prof. Jang Youn Cho menjadi Rektor Universitas Siber Indonesia, perguruan tinggi swasta pertama di Indonesia yang membidangi siber, fenomena baru dalam dunia perguruan tinggi Indonesia.
Dunia pendidikan teologi kristen di Indonesia, kini telah memiliki profesor baru, yakni Pdt. Prof. Dr Agus Batlajery, Ph.D, Dosen pada Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM).
Pdt Dr Agus Batlajery, Ph.D,
setelah melalui proses pengusulan dan penilaian jabatan guru besar oleh Menteri Ristek Dikti RI, akhirnya layak meraih gelar Profesor Bidang Ilmu Teologi, pada Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon, demikian diberitakan
terasmaluku.com.
Penabur International Choir Festival (PICF) 2019, ajang unjuk kemampuan paduan suara anak-anak dan pelajar, untuk ke-empat kalinya diadakan oleh Badan Pendidikan Kristen (BPK) Penabur Jakarta. Bertempat di Hall Gedung Penabur International Kelapa Gading (SPK Penabur) - Jalan Boulevard Bukit Gading Raya; Blok A5-8, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, kemarin Selasa (3 September 2019) jam 5 sore, telah dilakukan opening ceremony.
Terkait aksi pengusiran sekelompok organisasi kemasyarakatan berbau SARA di Asrama mahasiawa Papua di Surabaya dan Malang, Jawa Timur, beberapa hari lalu membetot perhatian publik. Pasalnya, akibat pengusiran mahasiswa Papua berdampak kerusuhan di Papua yang tidak dapat dihindari.
Aksi itu membuat sejumlah perkantoran dan fasilitas umum di Papua dan Papua Barat rusak parah. Bahkan, masyarakat mengalami kecemasan.